Jumat, 26 Desember 2008

teknologii dan budayyaa

Teknologi Informasi dan Budaya Baca Tulis



Oleh Rahmatri Mardiko*

Melihat pengembangan IT di Indoneisa, ada hal penting yang agaknya luput dari perhatian kita. Mencontoh dari India dan China, bagaiamana kedua negara ini mampu menjadi pemain utama sebagai negara produsen IT, seharusnya kita melihatnya berpuluh tahun yang lalu. Di saat mereka memulai langkah membangun teknologi informasi. Bukan dengan kemajuan yang kita lihat saat ini, karena apa yang kita lihat saat ini adalah hasil akumulasi dari usaha-usaha mereka di tahun-tahun sebelumnya. Ada tahapan-tahapan yang dilalui hingga kemajuan saat ini mereka raih.

Unsur yang paling utama harus dibangun adalah basis pengetahuan yang kuat dan kultur baca tulis. Kita bisa mencontohnya dari Korea. Basis pengetahuan yang kuat memungkinkan Korea untuk melakukan loncatan besar dalam sebuah creative innovation, hingga akhirnya mampu melakukan inovasi sendiri dan menjadi negara maju saat ini. Ketika perang Vietnam usai dan Presiden Amerika menawarkan bantuan untuk Korea atas jasanya selama perang tersebut, tak banyak yang diminta Presiden Park saat itu. Amerika akhirnya membangunkan untuk Korea laboratorium Iptek besar yang kemudian bernama KIST (Korean Institute of Science and Technology). KIST inilah yang memiliki peran besar dalam membangun basis pengetahuan yang kuat di Korea. Begitu pula yang dialkukan India dan China, khususnya dalam pengembangan IT.

Dalam teknologi informasi, basis pengetahuan yang utama adalah penguasaan ilmu-ilmu murni seperti matematika dan ilmu alam. Tentunya hal ini harus ditunjang dengan kebijakan pendidikan dan akses untuk mendapatkan buku secara murah. Cara inilah yang ditempuh India di tahun 1960-an, lebih dari 40 tahun yang lalu. Begitu pula China. Since mathematics is the foundation of all digital advances, nation well versed in that discipline -including China, India and the nations of Southeast Asia- could turn their homeands into formirdable technology power. (Businessweek)

Basis pengetahuan yang kuat akan sulit diwujudkan tanpa adanya kultur baca tulis yang kuat pula. Hampir semua informasi dan ilmu pengetahuan tersedia dalam bentuk tulisan (buku, majalah, jurnal, koran, brosur, pamflet, dsb). Informasi dalam bentuk tulisan memiliki banyak keunggulan dibanding media-media dalam bentuk lain. Tapi jika kita bicara mengenai budaya baca tulis, maka instrumen utama kita adalah buku. Walaupun kini telah tersedia internet yang membantu kita menyediakan berbagai informasi, tapi buku tetap menjadi instumen utama. Internet memiliki beberapa kelemahan dan efek negatif yang justru menisbikan usaha ini. Even if computer/internet liuteracy was a mandate, the corect curriculum path would not be internet first. It might be something like: reading/writing literacy, typing/keyboarding/general computer mechanics and ETHICS, then the Internet - Tom Harrison in Computer and Society, June 1997.

Betapa sedihnya, di saat negara-negara lain sedang berpikir bagaimana mengembangkan teknik membaca cepat dan efektif, saat ini kita masih disibukkan dengan agenda-agenda memberantas buta huruf. Tapi ini tidak menjadi masalah jika memang hal ini didasari keinginan yang kuat untuk memajukan pendidikan.

Maka dari itu, jika kita berbicara pengembangan IT secara jangka panjang agar mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, upaya membangun budaya baca tulis ini harus jadi perhatian kita yang utama. Realisasinya akan sangat bergantung pada political will pemerintah untuk memajukan pendidikan. Kebijakan yang paling penting dalam mendorong budaya baca tulis ini adalah ketersediaan pusat-pusat informasi seperti perpustakaan-perpustakaan dan buku yang harganya terjangkau. Perpustakaan sebagai salah satu faktor penting di dalam pengembangan TI seringkali diabaikan dan tidak dianggap sebagai unsur yang penting. Padahal perpustakaan lah, yang dari awal telah mengelola informasi. Apalagi dengan kenyataan mayoritas warga kita yang mayoritas Islam, kita memiliki warisan sejarah bagaimana di masa keemasan Islam, perpustakaan dan buku menjadi alat utama dalam saluran distribusi informasi hingga mampu mewujudkan masyarakat madani.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk membangun kultur baca tulis misalnya menggiatkan upaya-upaya penerjemahan buku-buku dari luar negeri atau memberikan insentif untuk para penulis buku dalam negeri, khususnya di kalangan akademisi. Dalam hal ini, kita juga bisa memanfaatkan internet sebagai saluran distribusi informasi dan sumber-sumber bacaan, bahkan bisa jadi sangat efektif. Dan kuncinya sebenarnya ada pada anggaran pemerintah untuk pendidikan yang mencukupi. Kenapa tidak, anggaran IT digunakan untuk investasi jangka panjang di bidang pendidikan?

Dengan terbangunnya kultur baca tulis di masyarakat umum, barulah implementasi teknologi informasi akan berperan lebih optimal dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada fase ini, barulah tercipta Komunikasi-Komunitas-Knowledge dan Kolaborasi. Kolaborasi adalah manfaat utama dari IT khususnya internet. Internet memungkinkan orang berkolaborasi secara murah tanpa dibatasi geografi dan waktu. Untuk memulai kolaborasi ini, biasanya dilakukan pertama kali dengan membangun komunitas online. Melalui komunitas ini, para anggota komunitas dapat saling berkomunikasi dan berbagi ilmu pengetahuan (knowledge).

Awal mulanya internet dikembangkan dengan semangat berbagi ilmu dan informasi. Walau merupakan proyek Departemen Pertahanan Amerika, internet digunakan dan dikembangkan untuk tujuan kolaborasi dunia akademi yang serba terbuka. Maka untuk itu, ketersediaan akses ke internet bukanlah segala-galanya, tapi yang lebih penting adalah kontennya. Pengembangan internet tanpa memperhatikan content hanya akan membuat kita pengonsumsi informasi dari luar negeri saja. Apakah internet menyediakan informasi yang memadai dan sesuai untuk kebutuhan-kebutuhan kita, khususnya dalam pendidikan? Apakah internet bisa diefektifkan agar kita mampu berkolaborasi satu sama lain? Saat ini apakah internet mampu membantu kita mewujudkan kesejahteraan masyarakat? Pertanyaan inilah yang harus dijawab, Jangan berpikir dulu akses internet yang terbuka secara luas. Alih-alih, pembukaan akses internet secara luas malah membawa efek buruk seperti digital warfare, pornografi, buang-buang waktu, uang dan menyia-nyiakan potensi.

Referensi:
Mulyanto, Dr. M.Eng, Urgensi Jihad Teknologi. Tarbiyatuna. Jakarta: 2003
Rahardjo, I. Budi, M.Sc, Ph.D, Memahami Teknologi Informasi. Elex Media Komputindo. Jakarta: 2002.
Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21 Menjangkau Informasi. Mizan. Bandung:1996
Wiryana, I Made, From Germany with IT. Ardi Publishing. Yogyakarta: 2004
————————————
* penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI dan peserta PPSDMS NF Regional 1 Jakarta

Selasa, 16 Desember 2008

sejaraahh televisii Indonesia Kita :)

Rabu, 02 Agustus 2006
Opini - Koran Tempo
Kembali ke TVRI: Pengkhianatan 1990-1991
03 Aug 2006

Arswendo AtmowilotoPemerhati Televisi

Sejarah pertelevisian di Indonesia, diawali dengan berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI), yang dicatatkan pada 24 Agustus 1962, meskipun sebenarnya sudah siaran sejak 17 Agustus. Dengan kekuatan hanya 100 watt, menara untuk antena setinggi 80 meter, dengan tenaga 80 orang yang berprofesi ganda--kadang reporter merangkap sutradara lapangan, merangkap sopir--liputan pesta olahraga ASEAN Games bisa disajikan urut.


Kemudian, seperti biasanya, acara bergulir. Laporan pertandingan sepak bola Indonesia melawan Swedia, meletusnya gunung Agung di Bali (31 Maret dan 1 April 1963), serta membuka dompet bencana alam. Iklan pertama dalam bentuk slide (1 Maret 1963) dan banyak yang pertama lainnya.


Kini setelah 44 tahun, apa dan bagaimana kondisinya?


Era perjuangan


Pada awalnya, persetujuan untuk mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang melawat ke Wina, 23 Oktober 1961. Sulit dibayangkan bagaimana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memilih peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka.


Indonesia berada sedikit di depan dari Cina, yang baru memiliki stasiun televisi tujuh tahun kemudian, India, bahkan 13 tahun. Singapura dan Malaya baru menyusul tahun berikutnya, walau secara perekonomian lebih maju. Filipina memang lebih awal, tapi DZAQ-TV dimiliki oleh perorangan.


Meski seadanya, TVRI menjadikan diri sebagai pusat perhatian dan berhasil mendokumentasikan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam kurun itu sebagai satu-satunya sumber.


Peristiwa kedua yang pantas dicatat adalah ketika Presiden Soeharto memutuskan meluncurkan satelit Palapa A-1 pada Juli 1976. Indonesia adalah negara kelima di dunia yang "memiliki" satelit untuk antara lain siaran televisi. Dari Sabang sampai Merauke pun tersambungkan. Sekurang-kurangnya secara teori.


Era pemerintah


Sejak itu, era yang berlangsung adalah era pemerintah saat itu, ketika semua tata nilai dan tata krama sepenuhnya diatur oleh pemerintah Orde Baru. TVRI memonopoli siaran, memonopoli produksi, dan mendirikan Dewan Siaran Nasional dengan pejabat pemerintah yang itu-itu juga. TVRI menjadi the one and only yang sebenar-benarnya. Tak mungkin ada stasiun siar lain, tak ada program atau acara yang menyindir atau mempertanyakan kebijaksanaan pemerintah, bahkan lirik lagu pop bisa dilarang, grup musik dengan anggota yang dianggap pembangkang tak boleh tampil lagi, dan dialog dalam lawakan bisa terkena sensor. Tak ada semangat lain selain "pembangunan". Presiden Soeharto, di depan sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat, ketika menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1981-1982, berpidato: "Untuk lebih memusatkan siaran televisi bagi kelancaran pelaksanaan program pembangunan dan menghindarkan akibat-akibat samping yang tidak menguntungkan bagi semangat pembangunan, saya telah memberi petunjuk agar 1 April 1981 nanti, siaran iklan di TVRI dihapuskan."


Pidato itu terhenti sebentar karena tepuk tangan meriah.


Era itu memang membuktikan kontrol ketat dari pemerintah di bidang media, sehingga izin terbit majalah dibatasi (apalagi harian), jumlah halaman dibatasi, jumlah iklan dibatasi--bahkan untuk menjadi wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia melalui berbagai persyaratan dan rekomendasi. Siaran TVRI pun wajib menayangkan pengibaran bendera yang harus diulang sore hari (padahal zaman Presiden Soekarno tidak terjadi), atau wajib menyiarkan film Pengkhianatan G-30-S/PKI setiap 1 Oktober untuk kesekian kalinya. Senasib dengan itu, radio swasta niaga pun diharuskan merelai siaran RRI setiap jam, termasuk siaran tengah malam.


Indonesia membuktikan bisa mengontrol televisi lebih dari negara komunis, seperti Uni Soviet ataupun Republik Rakyat Cina, yang memiliki lebih dari satu stasiun siar.


Era pengkhianatan


Namun, kemudian terbukti bahwa pemerintah melalui Departemen Penerangan mengeluarkan izin untuk siaran terbatas, dengan penonton harus menggunakan decoder serta membayar uang langganan. Pemerintah mengkhianati dirinya sendiri, dengan masih malu-malu ketika memberi izin berdirinya RCTI pada akhir 1990. Segala tata krama pertelevisian, yang selama ini dicanangkan dengan kuat, dilanggar sendiri.


Puncaknya adalah 23 Januari 1991, ketika TPI, yang menyandang beban pendidikan, bisa bersiaran terbuka secara nasional. Bahkan awalnya masih memakai perlengkapan, tenaga yang ada di TVRI. Tidak usah berlangganan bagi pemirsa dan membuka pintu lebar untuk pemasang iklan.


Ketika tata nilai dan tata krama pertelevisian dikhianati, segala apa bisa terjadi. Penjungkirbalikkan apa yang diterima selama ini bahwa pemerintah sebagai satu-satunya badan yang berhak mengadakan siaran, bahwa iklan tidak menguntungkan bagi semangat pembangunan, tidak berlaku lagi. Kalaupun kemudian ANTV izinnya berbasis di Lampung dan SCTV di Surabaya bisa leluasa dan tetap dari Jakarta, itu merupakan konsekuensi dari pengkhianatan pertama yang tidak diprotes atau dipertanyakan. Demikian juga dengan siaran sistem berlangganan, baik melalui satelit maupun kabel, merupakan bagian dari ini. Seperti juga munculnya stasiun siar (berizin) lokal yang jumlahnya terus meningkat.


Masalahnya bukan hanya "kue iklan di TVRI yang dimatikan" dan dibagi ramai-ramai, melainkan keberadaan masyarakat penonton makin terabaikan. Karena dengan terbuka persaingan, tata krama pertelevisian serta-merta masuk pasar industri, dan wacana seperti rating/sharing dianggap terpenting. Pada saat itu, TVRI seolah menjadi anak haram, diam--tidak bisa berbicara dan tidak dibicarakan.


Era masyarakat


Sejarah pertelevisian agaknya mulai bergerak untuk melirik kembali TVRI, ketika sebagian masyarakat sadar bahwa televisi swasta makin menjauh dari harapan untuk memberikan dukungan penuh proses berbangsa dan berbudaya. Setidaknya dengan TVRI yang sadar diri, pilihan lain dimungkinkan. Begitulah pertelevisian yang sehat, memungkinkan keberagaman dan menolak keseragaman.


Sebagai televisi masyarakat--juga dalam arti dibiayai masyarakat--tidak berarti sama sekali nonpemerintah atau nonkomersial.


Sejarah telah membuktikan bagaimana era awal, sekurang-kurangnya sepuluh tahun pertama, membuahkan hasil yang demokratis, yang menyertakan peran masyarakat. Bahkan kalau dilihat dari kacamata gender sekarang ini, pembaca berita perempuan, atau wartawan perempuan yang meliput langsung di lapangan, bukan sesuatu yang aneh. Hubungan antara stasiun siar dan pemerintah serta masyarakat berlangsung.


Sekarang, agaknya tinggal membenahi dan menyadari bahwa selain pemerintah dan masyarakat, ada unsur lain, yaitu pasar.


Rumusan dinamis ini yang akan membuat TVRI memikat, menarik sekaligus mendidik, informatif sekaligus juga bisa informal.


Masyarakat pula yang akhirnya harus dimenangkan, bukan hanya sebagai pemirsa, melainkan juga ketika bersuara.

Selasa, 09 Desember 2008

KONVERGENSI TEKNOLOGI BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN KOMUNIKASI..

Menambah Informasi Geografi Digital

Oleh René L Pattiradjawane

Konvergensi teknologi menjadi ciri alamiah kemajuan teknologi komunikasi informasi dan akan selalu melekat bersamaan dengan perkembangannya yang pesat serta secara ekonomi mencapai skala yang mudah dan murah dijangkau oleh siapa saja.

Ketika teknologi komunikasi informasi penuh nuansa multimedia memenuhi kebutuhan konsumen menghibur diri, berbagai perangkat dipenuhi dengan kemampuan audio dan video memungkinkan kita mendengarkan dan menonton di mana saja.

Di sisi lain, terjadi metamorfosis perangkat ponsel yang tidak hanya dijadikan alat berkomunikasi, tetapi berkembang menjadi perangkat yang serba bisa, serba pintar, dan mampu melakukan berbagai proses pekerjaan serta hiburan secara cepat dan tepat. Ponsel pun berkembang menjadi sebuah komputer yang bisa digunakan di telinga, mengerjakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan penggunanya.

Upaya mencangkokkan berbagai teknologi menjadi satu kesatuan dilakukan tanpa henti. Pada awalnya, personal digital assistant (PDA) yang ditambahkan fungsi ponsel dijadikan sebagai perangkat cerdas untuk melakukan berbagai hal.

Di antaranya adalah menambahkan fungsi untuk mengetahui posisi lokasi dengan memanfaatkan teknologi satelit dengan fitur global positioning system (GPS). Penggunaan GPS pun menjadi populer karena sistem informasi tidak melulu terkait dengan berita dan akses data dalam berbagai bentuk mulai dari teks dan multimedia, tetapi juga adanya kebutuhan akan informasi tentang posisi kita.

Ini, antara lain, yang mendorong pemanfaatan teknologi GPS, yang sebelumnya hanya digunakan untuk lingkungan militer, menjadi produk massal bagi konsumen awam.

Informasi geografis

Ada beberapa perangkat yang sekarang memiliki teknologi GPS, seperti Dopod D810 (foto paling kanan) dan perangkat sejenis lainnya. Khusus untuk Indonesia, Dopod D810 dilengkapi dengan peta digital Nusamap yang secara akurat bisa memberikan berbagai informasi geografis serta informasi lain yang berkaitan dengan kecepatan kendaraan; juga bisa menjadi alat untuk mengukur, misalnya, konsumsi bensin.

Penggunaan Nusamap dalam Dopod D810 juga mampu memberikan arah jalan saat kita memasuki kota-kota utama di Jawa dan Bali. Dibandingkan beberapa gadget lain dengan fitur GPS, D810 terbilang menyenangkan untuk digunakan. Interaksi dengan Nusmap pun berjalan tanpa kendala yang berarti.

Memang, ketika fungsi GPS dan GSM digunakan secara bersamaan dan secara intensif, persoalan yang muncul jelas pada daya tahan baterai yang selama ini memang menjadi kendala utama berbagai perangkat teknologi. (rlp)

Nokia 6110

Integrasi peta digital ke dalam ponsel memegang peranan penting dalam memanfaatkan fungsi GPS. Nokia, produsen ponsel terbesar dunia, juga melihat fitur GPS sebagai hal yang bisa menarik minat konsumen untuk menggunakannya.

Nokia sendiri sudah mulai memperkenalkan fitur GPS pada ponsel seri N95 atau Communicator terbaru E90. Namun, ada kendala yang menyebabkan fungsi GPS ini menjadi tidak nyaman digunakan, antara lain akses koneksi informasi posisi ke satelit yang memakan waktu terlalu lama dan membosankan.

Untuk mengatasi hal ini, Nokia memperkenalkan 6110 Navigator dengan chip GPS yang lebih baik dan dilengkapi tiga aplikasi peta digital, seperti Route 66, NavFone, dan SoloMap.

Perangkat GPS yang semakin baik terintegrasi ke dalam ponsel Nokia 6110 serta aplikasi peta digital menjadikan produk terbaru Nokia ini sebagai gadget yang menyenangkan. Aplikasi peta digital yang menarik adalah NavFone yang termasuk lengkap untuk kota-kota seperti Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya.

Aplikasi SoloMap sendiri dalam percobaan Kompas masih menghadapi beberapa persoalan yang menyebabkan ponsel Nokia harus reboot walaupun aplikasi ini memiliki data peta digital berbagai wilayah di Jawa dan Bali yang terbilang lengkap.

Yang menjadi menarik adalah kalau Nusamap buatan Bandung bisa diintegrasikan ke dalam ponsel Nokia, pasti akan menjadi daya tarik tersendiri. Konvergensi GPS sendiri sebenarnya juga harus memberikan peluang kepada anak bangsa untuk bisa menghasilkan produk-produk canggih yang tidak kalah hebat dengan buatan luar negeri.

Nusamap, meski masih menghadapi beberapa kendala, sudah menjadi aplikasi GPS yang canggih dan setara dengan Tomtom, NavFone, Mapking, dan lainnya buatan luar negeri. Persoalannya, dengan menggunakan GPS, kita tidak perlu lagi meminta jasa tukang ojek untuk menjadi penunjuk arah. (KOMPAS)

Jumat, 31 Oktober 2008

PERTEKOM ohh PERTEKOM..

BUDAYA DAN KONSEP TEKNOLOGI

yutiariani.blogspot.com/2005/01/teknologi-sebagai-produk-budaya.html - 25k -
Kehidupan
Saat manusia mencoba untuk menjadi manusia
Tuesday, January 25, 2005
Teknologi sebagai Produk Budaya
Dalam bukuVisi Iptek Memasuki Milenium III karangan Zuhal ada sebuah sub-bab yang menceritakan iptek yang merakyat dan high touch. Isinya dimulai dengan sejarah perkembangan manusia yang masih bergantung pada alam sampai mulai dapat memanfaatkan alam untuk menunjang kebutuhan hidup. Dalam kerangka iptek yang merakyat, buku itu menyebutkan bahwa manusia harus secepatnya mewujudkan mapannya masyarakat berbasis pengetahuan, manusia yang melek iptek dan siap menggunakan kemudahan yang tersedia untuk keperluan perekonomiannya. Sisi lain, yang disorot adalah antisipasi akibat dan konsekuensi kehadiran high-tech. Oleh karena itu, Zuhal dalam bukunya menyatakan “Kita perlu melihat high-tech dari kacamata kemanusiaan dan memahami dampaknya terhadap kualitas hidup yang meliputi dan tidak terpisahkan dari evolusi budaya bangsa, kreativitas, imajinasi serta aspirasi masyarakat Indonesia. Bagi kita high tech bukan semata-semata artifak-kebendaan, objek material dan fisik saja, tetapi juga merupakan sesuatu yang menyatu dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.” Kalau sains masih bisa diletakan dalam sebuah wilayah bebas-nilai(meski sampai saat ini masih banyak perdebatan mengenai sains yang bebas nilai), maka tak begitu halnya dengan teknologi. Bagaimana tidak, teknologi(techne=cara dan logos=pikiran) merupakan hasil dari proses berpikir manusia. Artinya teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu. Sms, misalnya, dalam budaya yang tingkat literernya cukup tinggi mampu menghemat biaya pulsa, namun ketika diterapkan dalam masyarakat tertentu malah dijadikan sarana baru untuk mengobrol. Hasilnya, sms malah menjadi sumber pemborosan baru. Salah satu kisah lain yang menarik adalah sebuah daerah yang penduduknya mayoritas bekerja sebagai TKW, dikisahkan bahwa rumah mereka bagus-bagus, didalamnya ada kulkas, televisi dll. Tapi kulkas tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyimpan makanan yang cepat busuk melainkan sebagai tempat menyimpan baju. Dalam hal ini teknologi hanya menjadi sebuah alat baru untuk menentukan klas seseorang. Dalam kacamata materialisme, aspek materi menjadi dasar dari sebuah bangunan sedangkan aspek non-materi menjadi bangunan yang ada diatasnya. Artinya dasar bangunan secara mutlak akan mempengaruhi bangunan diatasnya, namun tidak berlaku sebaliknya. Pada kasus penerapan teknologi tinggi(high tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu daerah. Beberapa ciri manusia modern menurut Inkeles dan Smith dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga adalah memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam dan bukan sebaliknya dll. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia tradisional--sebagai lawan dari manusia modern—juga berdampak dari gaya hidup kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern. Nilai-nilai yang berbeda inilah yang pada umumnya tidak disadari, sehingga ketika suatu teknologi diimport atau digunakan oleh manusia tradisional ada beberapa kemungkinan konflik. Pertama, teknologi tersebut ditolak, sebagaimana yang seringkali dialami oleh peneliti yang melakukan pengawasan langsung ke daerah-daerah. Selama masa pendampingan, teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik. Namun ketika dilepas, mereka kembali pada cara-cara konvensional. Kemungkinan kedua, adalah masyarakat tradisional benar-benar bergantung pada teknologi tersebut dan menerima semua perubahan tersebut dengan kepercayaan mutlak. Akibatnya teknologi tersebut mencabut mereka dari akar budaya yang telah ada sebelumnya(cenderung terjadi di bidang consumer technologies). Oleh karena itu, ada satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah tujuan dari pembuatan teknologi tersebut, apakah teknologi dibuat dengan spesifikasi khusus sesuai dengan kultur budaya masyarakat tertentu atau ia bersifat nir-ruang. Sebagai produk budaya, tentu teknologi tak dapat bersifat nir-ruang. Solusi yang paling mungkin adalah proses adaptasi, sehingga nilai-nilai yang dibawa oleh teknologi tersebut dapat disaring dan dimanfaatkan semaksimal mungkin pada daerah baru(daerah yang mengimpor teknologi tersebut). Penerapan teknologi terkait langsung dengan perkembangan industri dan juga militer. Artinya, kemajuan teknologi secara tidak langsung juga bisa dilihat dari kemajuan suatu negara. Hubungan ini bisa disederhanakan dengan membagi negara-negara di dunia menjadi dua kubu besar, yaitu negara maju dan negara terbelakang. Negara maju dengan pembagian kerja secara internasional(negara-negara industri dan negara-negara pertanian) berperan sebagai negara industri sedangkan negara terbelakang pada umumnya masuk dalam kelompok negara pertanian. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pembagian kerja ini mengarah pada berkurangnya pendapatan negara-negara pertanian sedangkan kebutuhan belanja barang-barang industri cenderung naik. Akibatnya, negara pertanian menjadi negara terbelakang dan negara-negera industri melesat menjadi negara maju. Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk menganalisis keadaan ini, salah satu diantaranya adalah pendekatan budaya. Sebagai pengembangan dari Etika Prostestan-nya Weber, McClelland mengajukan n-Ach(the need of Achievement). Konsep ini menyatakan bahwa keinginan, kebutuhan, atau dorongan untuk berprestasi tidak sekadar untuk meraih imbalan material yang besar. Hal ini terungkap dari studi historis pada pembangunan ekonomi di Spanyol pada abad ke-16. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi selalu didahului oleh karya-karya sastra yang mempunyai nilai n-ach yang tinggi. Kesimpulan Dari beberapa teori dan contoh kasus diatas, terlihat bahwa teknologi yang dalam kacamata materialisme akan mempengaruhi masyarakat yang menggunakan teknologi tersebut dapat juga sebaliknya. Dalam masyarakat modern, perkembangan industri yang berbanding lurus dengan teknologi dipengaruhi oleh tingkat kebudayaan. Semakin tinggi nilai n-Ach, maka perkembangan ekonomi di negara tersebut juga akan maju. Hal ini secara tidak langsung juga menjadi jawaban atas kemajuan yang dialami oleh negara-negara industri yang menjadi negara maju. Kehadiran alat-alat produksi yang serba cepat dan mekanistik menjadi katalis untuk mempercepat ritme hidup dan kemajuan. Akibatnya, ketika kultur masyarakat industri berubah dengan cepat menjadi masyarakat modern(dengan ciri-ciri yang telah disebutkan diatas). Masyarakat di negara-negara pertanian masih terbiasa dengan pola hidup yang mengandalkan alam, tidak peka terhadap perubahan dll. Ironisnya, ketika mereka sadar akan ketertinggalan ini, masyarakat negara-negara terbelakang langsung mengadopsi teknologi tinggi yang menyebabkan tingkat ketergantungan mereka terhadap negara maju semakin tinggi. Ditambah intervensi negara-negara maju yang kini memegang posisi penting dalam badan-badan dunia seperti PBB, WTO. Selanjutnya jika menggunakan cara pandang linier, negara terbelakang akan mengikuti sejarah negara maju(berubah menjadi negara industri) dan ketika negara terbelakang telah menjadi negara industri, negara yang disebut maju adalah negara yang menguasai teknologi tinggi. Hal ini berlangsung terus menerus seperti paradok Zeno(kisah dimana Zeno tidak berhasil mengejar kura-kura yang sudah lari terlebih dahulu karena setiap kali Zeno melangkah, kura-kura tersebut sudah melangkah maju lebih dahulu). Untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, maka negara-negara terbelakang harus mampu menciptakan teknologi yang berasal dari akar rumput(grass-root), sehingga teknologi mampu memutus matarantai ketergantungan terhadap teknologi yang berasal dari negara maju, sekaligus menghindari terjadinya konflik internal.


TRANSPORTASI INFORMASI MELALUI KABEL SERAT OPTIK

telekomui.org/?p=74 - 25k
telekomui
Universitas Indonesia
Kurir Informasi Berbekal Cahaya
Oleh nandi5 Komentar »
SERAT optik adalah sebagian kecil dari perjalanan sejarah penemuan manusia yang seolah tanpa batas. Ketika Thomas A. Edison menemukan lampu pijar, ia dikatakan telah berhasil “menangkap petir”. Kini manusia tak cuma berhasil menangkap, tapi mengendalikan cahaya. Ini hanya mungkin terlaksana dengan serat optik. Sebagai kunci lalu lintas informasi, tak salah bila dikatakan, inilah kunci kekuasaan masa depan.
Sejak dahulu cahaya sudah digunakan orang untuk berkomunikasi, entah dengan obor, api unggun atau dengan pantulan cahaya matahari di cermin. Bahkan sampai sekarang pun komunikasi antara dua kapal di tengah lautan masih ada yang menggunakan bahasa isyarat Morse dengan lampu. Ketika informasi makin menjadi kekuatan, cahaya pun makin ambil peranan.
Gagasan menyalurkan cahaya lewat gelas sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Berdasarkan pengamatan selama berabad-abad, para fisikawan Jerman mengawali eksperimen transmisi cahaya mealalui bahan gelas yang bernama serat optik sekira tahun 1930-an.
Pada tahun 1958, giliran orang Inggris yang mengusulkan prototipe serat optik yang sampai sekarang dipakai, yaitu gelas inti dibungkus bahan gelas lain. Kemudian orang Jepang juga ikut mengukir prestasi. Pada awal tahun 1960-an, mereka berhasil membuat sejenis serat optik untuk mentransmisikan gambar, walaupun baru sejauh 1 m!
Kemudian ada yang coba-coba mentransmisikan cahaya dengan rangkian lensa sebagai pemandu cahaya, lalu rangkaian cermin, kemudian gas, sebelum tiba pada sistem pemandu gelombang serat optik yang sekarang.
Sementara itu, di jalur lain para ilmuwan juga mengembangkan cahaya yang bisa “dikendalikan” arahnya, seraya membuat pembangkit dan penerima cahaya (detektor). Para ilmuwan memikirkan pula pengiriman sinyal cahaya sebagai alternatif. Tapi bagaimana mungkin? Terlalu banyak yang hilang di jalan karena diserap atmosfer. Belum lagi pancaran cahaya itu bersifat menyebar, sehingga pengiriman sinyal cahaya ke tujuan tertentu menjadi sulit.
Sekitar tahun 1959, orang menemukan laser dan terjadilah terobosan besar. Gelombang yang sudah masuk dalam spektrum cahaya ini berfrekuensi sangat tinggi. Laser beroperasi pada daerah frekuensi tampak, sekira 1014-15 Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi gelombang mikro, apalagi jika dibandingkan dengan frekuensi radio. Ia juga memungkinkan daerah frekuensi kerja yang luas.
Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih serba besar dan merepotkan. Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada suhu sangat rendah. Laser juga belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya sangat cerah pun, pancarannya gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer. Waktu itu, sebuah pancaran laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir pada banyak titik dengan simpangan jarak hingga hitungan meter.
Berkat laser
Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang kemurniannya sangat tinggi, kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa sehari-hari artinya serat yang sangat bening dan tidak menghantar listrik ini sedemikian murninya, sehingga konon, seandainya air laut itu semurni serat optik, dengan pencahayaan cukup kita dapat menonton lalu-lalangnya penghuni dasar Samudera Pasifik.
Seperti halnya laser, serat optik pun harus melalui tahap-tahap pengembangan awal. Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat tidak efisien. Hingga tahun 1968 atau berselang dua tahun setelah serat optik pertama kali diramalkan akan menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi (kehilangan)-nya masih 20 dB/km. Melalui pengembangan dalam teknologi material, serat optik mengalami pemurnian, dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi pasti atenuasinya mencapai tingkat di bawah 1 dB/km.
Tahun 80-an, bendera lomba industri serat optik benar-benar sudah berkibar. Nama-nama besar di dunia pengembangan serat optik bermunculan. Charles K. Kao diakui dunia sebagai salah seorang perintis utama. Dari Jepang muncul Yasuharu Suematsu. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL jelas punya banyak sekali peranan dalam mendalami riset-riset serat optik.
Sebenarnya bagaimanakah konsep pentransmisian informasi itu? Secara sederhana sinyal informasi apa pun mengalami proses kira-kira seperti misalnya suara pembicaraan di telefon, diubah dulu menjadi sinyal listrik. Gelombang sinyal ini kemudian diolah agar bisa diboncengkan pada gelombang pembawa. Proses memboncengkannya dinamakan proses modulasi. Setelah itu gelombang sinyal baru ditransmisikan, atau dikirim. Maka “berangkatlah” gelombang pembawa alias kurir yang diboncengi gelombang sinyal tadi.
Pada teknologi serat optik gelombang pembawanya berupa laser, sedangkan “jalan” bagi si gelombang pembawa ngebut sambil menggendong gelombang sinyal tadi adalah jaringan kabel serat optik. Di tempat tujuan, terjadi proses sebaliknya. Pertama-tama, proses demodulasi. Gelombang sinyal “diturunkan” dari boncengannya, dipisahkan dari gelombang pembawa, lalu dikembalikan lagi ke bentuk semula. Sinyal suara menjadi suara. Sinyal gambar menjadi gambar.
Di tengah perjalanan, biasanya dipasang repeater. Di sini gelombang sinyal itu dibersihkan, dipulihkan mutunya supaya sama dengan mutu sinyal asli, lalu diberangkatkan lagi.
Keunggulan paling utama tentu pada kapasitas. Dengan laser sebagai gelombang pembawa dan serat optik sebagai pemandunya, gelombang sinyal yang bisa dikirim bisa sampai ratusan ribu kali, dibandingkan dengan teknologi konvensional yang menggunakan gelombang berfrekuensi rendah melalui kawat tembaga (bisa kawat koaksial, bisa jenis kawat telepon yang ada di rumah).
Bila dengan teknologi kawat tembaga tiap 1-2 km sudah harus dibangun repeater, sistem serat optik bisa bertahan tanpa repeater hingga jarak 100 -200 km. Dibandingkan dengan kawat tembaga, dimensi serat optik sangat mungil. Kalau kawat tembaga bisa berdiameter sampai 0,5 cm, serat optik lebih kecil dari rambut. Satu serat optik berdiameter 10 µ ( (1 µ = sepersejuta m). Jika dihitung berikut cladding (pelindung), paling-paling garis tengahnya 100-250 µm.
Setiap serat optik terdiri atas 1 pair, yaitu satu jalur penerima dan jalur pengirim. Secara teoritis, serat optik sebesar kawat tembaga bisa memuat ratusan, bahkan ribuan kawat serat optik. Namun karena dari segi kapasitas sudah lebih dari cukup, yang diproduksi sampai sekarang cukup berisi puluhan pair saja.
Menurut fisikawan Prof.Dr.Ir. Tjia May On, kalau kapasitas kawat koaksial dapat mencapai sekira 40 MegaHertz (106 Hz), maka kapasitas serat optik mencapai hitungan Giga Hertz (1012 Hz).
Dengan berat jenis kecil, instalasi serat optik jauh lebih ringan dibandingkan dengan instalasi kawat tembaga. Itu sebabnya teknologi ini disambut industri transportasi, di mana bobot mempunyai nilai ekonomis tinggi. Instalasi perkabelan sebuah pesawat terbang atau kapal selam bisa mencapai berton-ton. Dengan sistem serat optik, pengiritan bobot mati sampai sebanyak itu senilai dengan jutaan dolar AS.
Karena informasi digendong cahaya dan dipandu bahan yang bersifat isolator, komunikasi lewat sistem serat optik tidak mudah disadap. Ia kebal terhadap gangguan elektromagnetik. Kalau disandingkan dengan telefon berarti tak ada masalah crosstalk (pembicaraan ganda). Untuk kalangan bisnis, apalagi dunia militer dan keamanan, hal tersebut menjadi keunggulan utama.(Berbagai sumber)

TEKNOLOGI INTERNET DAN WEBSITE
Cailmukomputer.com/category/internet-dan-web/ - 43k tegory 'Internet dan Web'
Jangan Jadikan Google Hanya Sebagai Mesin Pencari
October 17th, 2008 / Komputer Dasar, Internet dan Web, eLearning dan eEducation
Kayaknya, kalau kita terhubung ke internet, ga akan terlepas dari Google. Saat ini, kita sering menggunakan Google untuk mencari sebuah artikel dengan hanya mengetikkan sebuah kata atau kalimat. Padahal, kalau kita tahu cara yang efektif untuk mencari sesuatu, akan langsung menemukan apa yang kita cari.
Google, dengan tampilan yang sederhana, ternyata memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Berikut ini beberapa kemampuan yang dimiliki oleh Google.
Sebagai kalkulator.
Mencari konstanta.
Mengonversi satuan.
Mengonversi mata uang.
Mencari definisi.
Mencari tipe file tertentu.
Mencari kelompok kata.
Menerjemahkan bahasa.
Menjelajah bumi dan ruang angkasa.
Mencari buku.
Mencari artikel di blog.
Hebat, bukan? Sudah saatnya kita mengoptimalkan google dengan baik. Jangan hanya dijadikan sebagai mesin pencari.
DOWNLOAD ARTIKEL LENGKAP (PDF):
darma-google.pdf
Tata Cara Mengutip Karya Orang Lain
October 13th, 2008 / Knowledge Management, Komputer Dasar, Internet dan Web, Cyberlaw dan HAKI
Dalam tata cara mengutip karya orang lain kita setidaknya harus memperhatikan aturan atau tata cara yang berlaku. Kutipan ini dapat berupa tulisan-tulisan buku, majalah, surat kabar, gambar ataupun foto, E-Book dan sumber atau media lainnya.
Sesuai dengan Pasal 14 UU No. 19 Tahun 2002 C.
“Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta apabila pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, atau surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap”.
Ini berarti jikalau Anda mengutip tulisan atau karya orang lain dengan …
update E-Book versi 4.00.

Selasa, 16 September 2008

jalanjalanDIkotaSERANG.hahah

tugaas keduuaa.

kemaren kita.. JURNALISTIK VE yang paliing kereen ituu tuuh, aduuh sumpah anak2nya okeei banget d.

kita jalaan jalan.
jalan jalan yang sangat mengasyiikkan juga melelahkan,
bagaimana tidak? membaca saja saya tidak bisaa.. (coretsatubaris.red)
ditengah panasnya kota seraang.. dengan berkendaraan PELOR (nama angkot sewaan).
mau kuliah. udah telat setengah jam. besok si cantik lanjutiin lagii yaah.
hahahaha

Senin, 15 September 2008

inilaah tugas pertamaaa

SEBERAPA PENTING KITA MEMPELAJARI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI?

dibawah ini wawancara singkat saya oleh salah satu desain grafis di majalah pemerintahan.

ericha farendhica : pentingg ga mempelajari perkembangan teknologi komunikasi?

adhy : ya kalau tuk saat ini sih penting

ericha farendhica : saat ini?, berarti saat2 yang lain ga penting donk?

adhy : karena kalau kita ngak mempelajari perkembangannya nanti kita bisa
tertinggal, ya maksudnya tuk saat ini perkembangan di bidang teknologikan
berkembang dengan cepat.

dari wawancara singkat tadi, bisa dibilang kita mempelajari perkembangan teknologi hanya untuk mengikuti perkembangan jaman. biar ga dibilang "gaptek" kali yaa.. a.k.a gagap teknologi.

jadi, sejauh mana sebenarnya kita harus mengikuti perkembangan teknologi? apakah sejauh kita tidak disebt gaptek oleh orang lain, atau sejauh perkembangan teknologi tersebut bermanfaat bagi kita..

ada dua jawaban yang kemungkinan muncul.. (menurut saya..)
pertama. jawaban formal. yaah , sejauh mana perkembangan teknologi tersebut bermanfaat bagi kita. bagaimana kita menggunakan perkembangan teknologi komunikasi tersebut untuk menunjang kehidupan kita. contohnya, di dunia cyber pun sekarang sudah menjadi ladang mata pencaharian. seperti web maker, para pengiklan dan sebagainya.

kedua. jawaban nonformal. yaah bar gaul ajah.
kalau dilihat dari jawaban tersebut, kita menggunakan teknologi komunikasi hanya untuk mengikuti perkembangan jaman. walaupun kita tidak benar-benar mengerti apa manfaat jangka panjang teknologi tersebut..

karena saya sudah buntuu.. dan jam kuliah pun sudah memanggil.. adzan kaleee.

untuk tambahan pengetahuan, saya berikan referensi artikel dibawah ini..

Perkembangan Teknologi Komunikasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan Teknologi Informasi sangat mempengaruhi Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi seakan-akan tidak dapat dipisahkan, sehingga lahirlah istilah TIK(Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang sangat populer sekarang ini. Perpaduan keduanya semakin berkembang cepat dengan adanya media Internet. Teknologi Internet telah merubah cara orang berkomunikasi.

Email, menurut saya merupakan kunci utama perubahan cara berkomunikasi. Dengan hanya mempunyai satu alamat email, kita dapat mengikuti berbagai model komunikasi yang ada di Internet. Beberapa model komunikasi itu, diantaranya :
1. Forum
2. Milis/Group
3. Situs jejaring sosial
4. Blog
5. Situs sharing file
6. E-learning menggunakan teleconference

Mari kita bahas satu persatu keenam model komunikasi di atas.

Forum

Forum merupakan sebuah wadah diskusi online yang membahas tema atau topik tertentu. Beberapa situs portal atau website sebuah vendor produk, biasanya menyediakan fasilitas forum pada website mereka. Forum ini hanya dapat diikuti oleh pengunjung yang sudah terdaftar di web tersebut. Apabila belum terdaftar, pengunjung web forum, hanya dapat membaca hasil diskusi yang sudah ada, tapi mereka tidak dapat memberi komentar pada forum tersebut.

Form pendaftaran untuk menjadi member forum ini, biasanya mensyaratkan kita mengisikan alamat email, untuk verifikasi user dan password keanggotaan kita. Kode aktifasi biasanya dikirimkan via email.

Contoh web forum yang terkenal untuk para programmer Delphi di Indonesia adalah http://www.delphi-id.org. Di forum ini setiap member bisa membuat topik yang akan didiskusikan ataupun menjawab/memberi komentar atas topik orang lain.

Saya merasakan manfaatnya mengikuti forum ini. Terutama ketika kita mengalami kesulitan dalam kasus membuat program tertentu. Maka kita bisa menanyakannya melalui forum ini. Dengan kita memposting masalah kita di forum, pastinya akan banyak diantara member yang membaca dan memberikan solusi atas masalah kita. Pada forum Delphi ini, benar-benar postingan komentar/jawabannya diawasi oleh moderator, agar isinya tidak menyimpang dari tema forum ini yaitu pemrograman Delphi.

Namun ada beberapa forum yang isinya kurang bermanfaat. Misalnya forum yang ada di web portal detik yang kadang-kadang mengangkat topik yang kurang mendidik. Misalnya kalau tidak salah ingat, saya pernah membaca salah satu topik di forum detik yaitu ”Bagaimana perasaan anda saat ciuman pertama ?”. Saya kira topik tersebut kurang bermanfaat. Oleh karena itu, karena banyaknya forum yang ada, maka kita harus benar-benar pandai memilih dan tahu betul apa tema dan tujuan utama dari forum tersebut.