Jumat, 26 Desember 2008

teknologii dan budayyaa

Teknologi Informasi dan Budaya Baca Tulis



Oleh Rahmatri Mardiko*

Melihat pengembangan IT di Indoneisa, ada hal penting yang agaknya luput dari perhatian kita. Mencontoh dari India dan China, bagaiamana kedua negara ini mampu menjadi pemain utama sebagai negara produsen IT, seharusnya kita melihatnya berpuluh tahun yang lalu. Di saat mereka memulai langkah membangun teknologi informasi. Bukan dengan kemajuan yang kita lihat saat ini, karena apa yang kita lihat saat ini adalah hasil akumulasi dari usaha-usaha mereka di tahun-tahun sebelumnya. Ada tahapan-tahapan yang dilalui hingga kemajuan saat ini mereka raih.

Unsur yang paling utama harus dibangun adalah basis pengetahuan yang kuat dan kultur baca tulis. Kita bisa mencontohnya dari Korea. Basis pengetahuan yang kuat memungkinkan Korea untuk melakukan loncatan besar dalam sebuah creative innovation, hingga akhirnya mampu melakukan inovasi sendiri dan menjadi negara maju saat ini. Ketika perang Vietnam usai dan Presiden Amerika menawarkan bantuan untuk Korea atas jasanya selama perang tersebut, tak banyak yang diminta Presiden Park saat itu. Amerika akhirnya membangunkan untuk Korea laboratorium Iptek besar yang kemudian bernama KIST (Korean Institute of Science and Technology). KIST inilah yang memiliki peran besar dalam membangun basis pengetahuan yang kuat di Korea. Begitu pula yang dialkukan India dan China, khususnya dalam pengembangan IT.

Dalam teknologi informasi, basis pengetahuan yang utama adalah penguasaan ilmu-ilmu murni seperti matematika dan ilmu alam. Tentunya hal ini harus ditunjang dengan kebijakan pendidikan dan akses untuk mendapatkan buku secara murah. Cara inilah yang ditempuh India di tahun 1960-an, lebih dari 40 tahun yang lalu. Begitu pula China. Since mathematics is the foundation of all digital advances, nation well versed in that discipline -including China, India and the nations of Southeast Asia- could turn their homeands into formirdable technology power. (Businessweek)

Basis pengetahuan yang kuat akan sulit diwujudkan tanpa adanya kultur baca tulis yang kuat pula. Hampir semua informasi dan ilmu pengetahuan tersedia dalam bentuk tulisan (buku, majalah, jurnal, koran, brosur, pamflet, dsb). Informasi dalam bentuk tulisan memiliki banyak keunggulan dibanding media-media dalam bentuk lain. Tapi jika kita bicara mengenai budaya baca tulis, maka instrumen utama kita adalah buku. Walaupun kini telah tersedia internet yang membantu kita menyediakan berbagai informasi, tapi buku tetap menjadi instumen utama. Internet memiliki beberapa kelemahan dan efek negatif yang justru menisbikan usaha ini. Even if computer/internet liuteracy was a mandate, the corect curriculum path would not be internet first. It might be something like: reading/writing literacy, typing/keyboarding/general computer mechanics and ETHICS, then the Internet - Tom Harrison in Computer and Society, June 1997.

Betapa sedihnya, di saat negara-negara lain sedang berpikir bagaimana mengembangkan teknik membaca cepat dan efektif, saat ini kita masih disibukkan dengan agenda-agenda memberantas buta huruf. Tapi ini tidak menjadi masalah jika memang hal ini didasari keinginan yang kuat untuk memajukan pendidikan.

Maka dari itu, jika kita berbicara pengembangan IT secara jangka panjang agar mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, upaya membangun budaya baca tulis ini harus jadi perhatian kita yang utama. Realisasinya akan sangat bergantung pada political will pemerintah untuk memajukan pendidikan. Kebijakan yang paling penting dalam mendorong budaya baca tulis ini adalah ketersediaan pusat-pusat informasi seperti perpustakaan-perpustakaan dan buku yang harganya terjangkau. Perpustakaan sebagai salah satu faktor penting di dalam pengembangan TI seringkali diabaikan dan tidak dianggap sebagai unsur yang penting. Padahal perpustakaan lah, yang dari awal telah mengelola informasi. Apalagi dengan kenyataan mayoritas warga kita yang mayoritas Islam, kita memiliki warisan sejarah bagaimana di masa keemasan Islam, perpustakaan dan buku menjadi alat utama dalam saluran distribusi informasi hingga mampu mewujudkan masyarakat madani.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk membangun kultur baca tulis misalnya menggiatkan upaya-upaya penerjemahan buku-buku dari luar negeri atau memberikan insentif untuk para penulis buku dalam negeri, khususnya di kalangan akademisi. Dalam hal ini, kita juga bisa memanfaatkan internet sebagai saluran distribusi informasi dan sumber-sumber bacaan, bahkan bisa jadi sangat efektif. Dan kuncinya sebenarnya ada pada anggaran pemerintah untuk pendidikan yang mencukupi. Kenapa tidak, anggaran IT digunakan untuk investasi jangka panjang di bidang pendidikan?

Dengan terbangunnya kultur baca tulis di masyarakat umum, barulah implementasi teknologi informasi akan berperan lebih optimal dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pada fase ini, barulah tercipta Komunikasi-Komunitas-Knowledge dan Kolaborasi. Kolaborasi adalah manfaat utama dari IT khususnya internet. Internet memungkinkan orang berkolaborasi secara murah tanpa dibatasi geografi dan waktu. Untuk memulai kolaborasi ini, biasanya dilakukan pertama kali dengan membangun komunitas online. Melalui komunitas ini, para anggota komunitas dapat saling berkomunikasi dan berbagi ilmu pengetahuan (knowledge).

Awal mulanya internet dikembangkan dengan semangat berbagi ilmu dan informasi. Walau merupakan proyek Departemen Pertahanan Amerika, internet digunakan dan dikembangkan untuk tujuan kolaborasi dunia akademi yang serba terbuka. Maka untuk itu, ketersediaan akses ke internet bukanlah segala-galanya, tapi yang lebih penting adalah kontennya. Pengembangan internet tanpa memperhatikan content hanya akan membuat kita pengonsumsi informasi dari luar negeri saja. Apakah internet menyediakan informasi yang memadai dan sesuai untuk kebutuhan-kebutuhan kita, khususnya dalam pendidikan? Apakah internet bisa diefektifkan agar kita mampu berkolaborasi satu sama lain? Saat ini apakah internet mampu membantu kita mewujudkan kesejahteraan masyarakat? Pertanyaan inilah yang harus dijawab, Jangan berpikir dulu akses internet yang terbuka secara luas. Alih-alih, pembukaan akses internet secara luas malah membawa efek buruk seperti digital warfare, pornografi, buang-buang waktu, uang dan menyia-nyiakan potensi.

Referensi:
Mulyanto, Dr. M.Eng, Urgensi Jihad Teknologi. Tarbiyatuna. Jakarta: 2003
Rahardjo, I. Budi, M.Sc, Ph.D, Memahami Teknologi Informasi. Elex Media Komputindo. Jakarta: 2002.
Sardar, Ziauddin, Tantangan Dunia Islam Abad 21 Menjangkau Informasi. Mizan. Bandung:1996
Wiryana, I Made, From Germany with IT. Ardi Publishing. Yogyakarta: 2004
————————————
* penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI dan peserta PPSDMS NF Regional 1 Jakarta

Selasa, 16 Desember 2008

sejaraahh televisii Indonesia Kita :)

Rabu, 02 Agustus 2006
Opini - Koran Tempo
Kembali ke TVRI: Pengkhianatan 1990-1991
03 Aug 2006

Arswendo AtmowilotoPemerhati Televisi

Sejarah pertelevisian di Indonesia, diawali dengan berdirinya Televisi Republik Indonesia (TVRI), yang dicatatkan pada 24 Agustus 1962, meskipun sebenarnya sudah siaran sejak 17 Agustus. Dengan kekuatan hanya 100 watt, menara untuk antena setinggi 80 meter, dengan tenaga 80 orang yang berprofesi ganda--kadang reporter merangkap sutradara lapangan, merangkap sopir--liputan pesta olahraga ASEAN Games bisa disajikan urut.


Kemudian, seperti biasanya, acara bergulir. Laporan pertandingan sepak bola Indonesia melawan Swedia, meletusnya gunung Agung di Bali (31 Maret dan 1 April 1963), serta membuka dompet bencana alam. Iklan pertama dalam bentuk slide (1 Maret 1963) dan banyak yang pertama lainnya.


Kini setelah 44 tahun, apa dan bagaimana kondisinya?


Era perjuangan


Pada awalnya, persetujuan untuk mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang melawat ke Wina, 23 Oktober 1961. Sulit dibayangkan bagaimana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memilih peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka.


Indonesia berada sedikit di depan dari Cina, yang baru memiliki stasiun televisi tujuh tahun kemudian, India, bahkan 13 tahun. Singapura dan Malaya baru menyusul tahun berikutnya, walau secara perekonomian lebih maju. Filipina memang lebih awal, tapi DZAQ-TV dimiliki oleh perorangan.


Meski seadanya, TVRI menjadikan diri sebagai pusat perhatian dan berhasil mendokumentasikan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam kurun itu sebagai satu-satunya sumber.


Peristiwa kedua yang pantas dicatat adalah ketika Presiden Soeharto memutuskan meluncurkan satelit Palapa A-1 pada Juli 1976. Indonesia adalah negara kelima di dunia yang "memiliki" satelit untuk antara lain siaran televisi. Dari Sabang sampai Merauke pun tersambungkan. Sekurang-kurangnya secara teori.


Era pemerintah


Sejak itu, era yang berlangsung adalah era pemerintah saat itu, ketika semua tata nilai dan tata krama sepenuhnya diatur oleh pemerintah Orde Baru. TVRI memonopoli siaran, memonopoli produksi, dan mendirikan Dewan Siaran Nasional dengan pejabat pemerintah yang itu-itu juga. TVRI menjadi the one and only yang sebenar-benarnya. Tak mungkin ada stasiun siar lain, tak ada program atau acara yang menyindir atau mempertanyakan kebijaksanaan pemerintah, bahkan lirik lagu pop bisa dilarang, grup musik dengan anggota yang dianggap pembangkang tak boleh tampil lagi, dan dialog dalam lawakan bisa terkena sensor. Tak ada semangat lain selain "pembangunan". Presiden Soeharto, di depan sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat, ketika menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1981-1982, berpidato: "Untuk lebih memusatkan siaran televisi bagi kelancaran pelaksanaan program pembangunan dan menghindarkan akibat-akibat samping yang tidak menguntungkan bagi semangat pembangunan, saya telah memberi petunjuk agar 1 April 1981 nanti, siaran iklan di TVRI dihapuskan."


Pidato itu terhenti sebentar karena tepuk tangan meriah.


Era itu memang membuktikan kontrol ketat dari pemerintah di bidang media, sehingga izin terbit majalah dibatasi (apalagi harian), jumlah halaman dibatasi, jumlah iklan dibatasi--bahkan untuk menjadi wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia melalui berbagai persyaratan dan rekomendasi. Siaran TVRI pun wajib menayangkan pengibaran bendera yang harus diulang sore hari (padahal zaman Presiden Soekarno tidak terjadi), atau wajib menyiarkan film Pengkhianatan G-30-S/PKI setiap 1 Oktober untuk kesekian kalinya. Senasib dengan itu, radio swasta niaga pun diharuskan merelai siaran RRI setiap jam, termasuk siaran tengah malam.


Indonesia membuktikan bisa mengontrol televisi lebih dari negara komunis, seperti Uni Soviet ataupun Republik Rakyat Cina, yang memiliki lebih dari satu stasiun siar.


Era pengkhianatan


Namun, kemudian terbukti bahwa pemerintah melalui Departemen Penerangan mengeluarkan izin untuk siaran terbatas, dengan penonton harus menggunakan decoder serta membayar uang langganan. Pemerintah mengkhianati dirinya sendiri, dengan masih malu-malu ketika memberi izin berdirinya RCTI pada akhir 1990. Segala tata krama pertelevisian, yang selama ini dicanangkan dengan kuat, dilanggar sendiri.


Puncaknya adalah 23 Januari 1991, ketika TPI, yang menyandang beban pendidikan, bisa bersiaran terbuka secara nasional. Bahkan awalnya masih memakai perlengkapan, tenaga yang ada di TVRI. Tidak usah berlangganan bagi pemirsa dan membuka pintu lebar untuk pemasang iklan.


Ketika tata nilai dan tata krama pertelevisian dikhianati, segala apa bisa terjadi. Penjungkirbalikkan apa yang diterima selama ini bahwa pemerintah sebagai satu-satunya badan yang berhak mengadakan siaran, bahwa iklan tidak menguntungkan bagi semangat pembangunan, tidak berlaku lagi. Kalaupun kemudian ANTV izinnya berbasis di Lampung dan SCTV di Surabaya bisa leluasa dan tetap dari Jakarta, itu merupakan konsekuensi dari pengkhianatan pertama yang tidak diprotes atau dipertanyakan. Demikian juga dengan siaran sistem berlangganan, baik melalui satelit maupun kabel, merupakan bagian dari ini. Seperti juga munculnya stasiun siar (berizin) lokal yang jumlahnya terus meningkat.


Masalahnya bukan hanya "kue iklan di TVRI yang dimatikan" dan dibagi ramai-ramai, melainkan keberadaan masyarakat penonton makin terabaikan. Karena dengan terbuka persaingan, tata krama pertelevisian serta-merta masuk pasar industri, dan wacana seperti rating/sharing dianggap terpenting. Pada saat itu, TVRI seolah menjadi anak haram, diam--tidak bisa berbicara dan tidak dibicarakan.


Era masyarakat


Sejarah pertelevisian agaknya mulai bergerak untuk melirik kembali TVRI, ketika sebagian masyarakat sadar bahwa televisi swasta makin menjauh dari harapan untuk memberikan dukungan penuh proses berbangsa dan berbudaya. Setidaknya dengan TVRI yang sadar diri, pilihan lain dimungkinkan. Begitulah pertelevisian yang sehat, memungkinkan keberagaman dan menolak keseragaman.


Sebagai televisi masyarakat--juga dalam arti dibiayai masyarakat--tidak berarti sama sekali nonpemerintah atau nonkomersial.


Sejarah telah membuktikan bagaimana era awal, sekurang-kurangnya sepuluh tahun pertama, membuahkan hasil yang demokratis, yang menyertakan peran masyarakat. Bahkan kalau dilihat dari kacamata gender sekarang ini, pembaca berita perempuan, atau wartawan perempuan yang meliput langsung di lapangan, bukan sesuatu yang aneh. Hubungan antara stasiun siar dan pemerintah serta masyarakat berlangsung.


Sekarang, agaknya tinggal membenahi dan menyadari bahwa selain pemerintah dan masyarakat, ada unsur lain, yaitu pasar.


Rumusan dinamis ini yang akan membuat TVRI memikat, menarik sekaligus mendidik, informatif sekaligus juga bisa informal.


Masyarakat pula yang akhirnya harus dimenangkan, bukan hanya sebagai pemirsa, melainkan juga ketika bersuara.

Selasa, 09 Desember 2008

KONVERGENSI TEKNOLOGI BERKAITAN DENGAN PERKEMBANGAN KOMUNIKASI..

Menambah Informasi Geografi Digital

Oleh René L Pattiradjawane

Konvergensi teknologi menjadi ciri alamiah kemajuan teknologi komunikasi informasi dan akan selalu melekat bersamaan dengan perkembangannya yang pesat serta secara ekonomi mencapai skala yang mudah dan murah dijangkau oleh siapa saja.

Ketika teknologi komunikasi informasi penuh nuansa multimedia memenuhi kebutuhan konsumen menghibur diri, berbagai perangkat dipenuhi dengan kemampuan audio dan video memungkinkan kita mendengarkan dan menonton di mana saja.

Di sisi lain, terjadi metamorfosis perangkat ponsel yang tidak hanya dijadikan alat berkomunikasi, tetapi berkembang menjadi perangkat yang serba bisa, serba pintar, dan mampu melakukan berbagai proses pekerjaan serta hiburan secara cepat dan tepat. Ponsel pun berkembang menjadi sebuah komputer yang bisa digunakan di telinga, mengerjakan berbagai aplikasi sesuai kebutuhan penggunanya.

Upaya mencangkokkan berbagai teknologi menjadi satu kesatuan dilakukan tanpa henti. Pada awalnya, personal digital assistant (PDA) yang ditambahkan fungsi ponsel dijadikan sebagai perangkat cerdas untuk melakukan berbagai hal.

Di antaranya adalah menambahkan fungsi untuk mengetahui posisi lokasi dengan memanfaatkan teknologi satelit dengan fitur global positioning system (GPS). Penggunaan GPS pun menjadi populer karena sistem informasi tidak melulu terkait dengan berita dan akses data dalam berbagai bentuk mulai dari teks dan multimedia, tetapi juga adanya kebutuhan akan informasi tentang posisi kita.

Ini, antara lain, yang mendorong pemanfaatan teknologi GPS, yang sebelumnya hanya digunakan untuk lingkungan militer, menjadi produk massal bagi konsumen awam.

Informasi geografis

Ada beberapa perangkat yang sekarang memiliki teknologi GPS, seperti Dopod D810 (foto paling kanan) dan perangkat sejenis lainnya. Khusus untuk Indonesia, Dopod D810 dilengkapi dengan peta digital Nusamap yang secara akurat bisa memberikan berbagai informasi geografis serta informasi lain yang berkaitan dengan kecepatan kendaraan; juga bisa menjadi alat untuk mengukur, misalnya, konsumsi bensin.

Penggunaan Nusamap dalam Dopod D810 juga mampu memberikan arah jalan saat kita memasuki kota-kota utama di Jawa dan Bali. Dibandingkan beberapa gadget lain dengan fitur GPS, D810 terbilang menyenangkan untuk digunakan. Interaksi dengan Nusmap pun berjalan tanpa kendala yang berarti.

Memang, ketika fungsi GPS dan GSM digunakan secara bersamaan dan secara intensif, persoalan yang muncul jelas pada daya tahan baterai yang selama ini memang menjadi kendala utama berbagai perangkat teknologi. (rlp)

Nokia 6110

Integrasi peta digital ke dalam ponsel memegang peranan penting dalam memanfaatkan fungsi GPS. Nokia, produsen ponsel terbesar dunia, juga melihat fitur GPS sebagai hal yang bisa menarik minat konsumen untuk menggunakannya.

Nokia sendiri sudah mulai memperkenalkan fitur GPS pada ponsel seri N95 atau Communicator terbaru E90. Namun, ada kendala yang menyebabkan fungsi GPS ini menjadi tidak nyaman digunakan, antara lain akses koneksi informasi posisi ke satelit yang memakan waktu terlalu lama dan membosankan.

Untuk mengatasi hal ini, Nokia memperkenalkan 6110 Navigator dengan chip GPS yang lebih baik dan dilengkapi tiga aplikasi peta digital, seperti Route 66, NavFone, dan SoloMap.

Perangkat GPS yang semakin baik terintegrasi ke dalam ponsel Nokia 6110 serta aplikasi peta digital menjadikan produk terbaru Nokia ini sebagai gadget yang menyenangkan. Aplikasi peta digital yang menarik adalah NavFone yang termasuk lengkap untuk kota-kota seperti Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya.

Aplikasi SoloMap sendiri dalam percobaan Kompas masih menghadapi beberapa persoalan yang menyebabkan ponsel Nokia harus reboot walaupun aplikasi ini memiliki data peta digital berbagai wilayah di Jawa dan Bali yang terbilang lengkap.

Yang menjadi menarik adalah kalau Nusamap buatan Bandung bisa diintegrasikan ke dalam ponsel Nokia, pasti akan menjadi daya tarik tersendiri. Konvergensi GPS sendiri sebenarnya juga harus memberikan peluang kepada anak bangsa untuk bisa menghasilkan produk-produk canggih yang tidak kalah hebat dengan buatan luar negeri.

Nusamap, meski masih menghadapi beberapa kendala, sudah menjadi aplikasi GPS yang canggih dan setara dengan Tomtom, NavFone, Mapking, dan lainnya buatan luar negeri. Persoalannya, dengan menggunakan GPS, kita tidak perlu lagi meminta jasa tukang ojek untuk menjadi penunjuk arah. (KOMPAS)