Senin, 12 Januari 2009

apaa ituu bloog??

INFO
Apa Itu Blog?

Blog adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.

Blog kemudian berkembang mencari bentuk sesuai dengan kemauan para pembuatnya atau para Blogger. Blog yang pada mulanya merupakan ''catatan perjalanan'' seseorang di internet, yaitu link ke website yang dikunjungi dan dianggap menarik, kemudian menjadi jauh lebih menarik daripada sebuah daftar link. Hal ini disebabkan karena para Blogger biasanya juga tidak lupa menyematkan komentar-komentar ''cerdas'' mereka, pendapat-pendapat pribadi dan bahkan mengekspresikan sarkasme mereka pada link yang mereka buat.

Dari komentar-komentar tadi biasanya Blog kemudian menjadi jendela yang memungkinkan kita ''mengintip'' isi kepala dan kehidupan sehari-hari dari penciptanya. Blog adalah cara mudah untuk mengenal kepribadian seseorang Blogger. Topik-topik apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, apa yang dia pikirkan terhadap link-link yang dia pilih, apa tanggapannya pada suatu isu. Seluruhnya biasanya tergambar jelas dari Blog-nya. Karena itu Blog bersifat sangat personal.

Roger Yim, seorang kolumnis San Francisco Gate pada artikelnya di Februari 2001, menuliskan bahwa sebuah Blog adalah persilangan antara diary seseorang dan daftar link di internet. Sedangkan Scott Rosenberg dalam kolomnya di majalah online Salon pada Mei 1999 menyimpulkan bahwa Blog berada pada batasan website yang lebih bernyawa daripada sekadar kumpulan link tapi kurang instrospektif dari sekadar sebuah diary yang disimpan di internet.

Perkembangan lain dari Blog yaitu ketika kemudian Blog bahkan tidak lagi memuat link-link tapi hanya berupa tulisan tentang apa yang seorang Blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. Blog kemudian juga menjadi diary anline yang berada di internet. Satu-satunya hal yang membedakan Blog dari diary atau jurnal yang biasa kita miliki adalah bahwa Blog dibuat untuk dibaca orang lain. Para Blogger dengan sengaja mendesain Blog-nya dan isinya untuk dinikmati orang lain.

Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman What's New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin's Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang.

Hingga pada tahun 1998, jumlah Blog yang ada di luar sana belumlah seberapa. Hal ini disebabkan karena saat itu diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus tentang pembuatan website, HTML, dan web hosting untuk membuat Blog, sehingga hanya mereka yang berkecimpung di bidang internet, System Administrator atau Web Designer yang kemudian pada waktu luangnya menciptakan Blog-Blog mereka sendiri.

Pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com yang memungkinkan siapa pun dengan pengetahuan dasar tentang HTML dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis. Walaupun sebelum itu (Juli 1999) layanan membuat Blog online dan gratis yaitu Pitas telah ada dan telah membuat Blogger bertambah hingga ratusan, tetapi jumlah Blog tidak pernah bertambah banyak begitu rupa sampai Blogger.com muncul di dunia per-blog-an.

Blogger.com sendiri saat ini telah memiliki hingga 100.000 Blogger yang menggunakan layanan mereka dengan pertumbuhan jumlah sekitar 20% per bulan. Blogger.com dan Pitas tentu tidak sendirian, layanan pembuat blog online diberikan pula oleh Grouksoup, Edit this Page dan juga Velocinews.

Sejak saat itu Blog kian hari kian bertambah hingga makin sulit untuk mengikutinya. Eatonweb Portal adalah salah satu daftar Blog terlengkap yang kini ada diantara daftar Blog lainnya. Ribuan Blog kemudian bermunculan dan masing-masing memilih topik bahasannya sendiri, dimulai dari bagaimana menjadi orangtua yang baik, hobi menonton film, topik politik, kesehatan, seks, olah raga, buku komik dan macam-macam lagi. Bahkan Blogger ada Blog tentang barang-barang aneh yang dijual di situs lelang Ebay yang bernama Who Would By That?

Cameron Barret menulis pada Blog-nya esai berjudul ''Anatomy of a Weblog'' yang menerangkan tema dari Blog. Blog seringkali sangat terfokus pada sebuah subjek unik yaitu sebuah topik dasar dan/atau sebuah konsep yang menyatukan tema-tema dalam Blog tersebut. Secara sederhana topik sebuah Blog adalah daerah kekuasaan si Blogger-nya tanpa ada editor atau bos yang ikut campur, tema segila apa pun biasanya dapat kita temukan sejalan dengan makin bermunculannya Blog di internet. Dan ya, ide itu telah terpikirkan, Blogger bahkan sekarang telah membuat Blog dari Blog, dan bahkan Blog dari Blog dari Blog.

Dari sedemikian banyak Blog yang ada, Blog-blog yang menetapkan standar dari Blog dan terkenal sehingga memiliki penggemarnya sendiri di antaranya adalah Blog milik Jorn Barger, Robot Wisdom yang disebut-sebut merupakan Blog terbesar dan paling berguna dimana dia setiap harinya menyodorkan sekian banyak link yang dibentuk dari ketertarikannya pada seni dan teknologi. Camworld adalah Blog populer milik Cameron Barret seorang desainer interaktif di mana dia mengkatrgorikan topik-topik Blog-nya pada kategori, Random Thoughts, Web Design dan New Media. Camworld dapat disebut sebagai Blog klasik dalam arti Blog tersebut mengandung dosis tepat dari karakter dan opini pribadi dicampur dengan keselektifan pemilihan link-nya. (iah/net)

Jumat, 09 Januari 2009

Euforia Video Ponsel

Camera phone report.com

Perkembangan teknologi digital ponsel semakin pesat

SP/Ruht Semiono

Pameran audio video selalu menyedot perhatian masyarakat.

Mendokumentasikan berbagai kejadian sangat mudah belakangan ini, karena alat untuk mendokumentasikannya juga lebih praktis. Sebut saja kamera dan video kamera. Dulu, orang cenderung malas menenteng kamera. Malas karena dikira tukang foto keliling, juga malas karena bobot kamera yang cukup merepotkan untuk sekadar ditenteng. Sudah begitu, hasil foto belum tentu bagus. 

ekarang, dengan adanya kamera digital, hasil bidikan bisa diketahui dan bisa langsung dihapus bila tidak sesuai selera, lalu siap memotret kembali. Demikian halnya dengan video kamera. Tampilannya sekarang hanya sebesar kamera digital biasa, dengan fitur-fitur dan tombol-tombol pengoperasian yang sangat mudah dan tak perlu detail dalam mempelajarinya melalui buku manual petunjuk. Jika sedang berjalan-jalan ke kawasan wisata, mudah menemukan pemandangan sese-orang tengah mengoperasikan kamera video itu.

Euforia berkamera digital dan video itu, mulai meningkat tingkat kesenangannya ketika telepon seluler (ponsel) mulai membenamkan kamera digital dan kemampuan merekam video di dalam alat yang semula memiliki fungsi utama bertelepon tanpa kabel. Kehadiran ponsel berkamera yang kemampuan merekam videonya bisa hingga 1,5 jam dan berbasis menampilkan titik warna hingga 5 megapixel, membuat merekam menjadi semudah menekan remote control. Tak usah orang dewasa, anak-anak pun bisa mengoperasikannya. 

Merekam dan memotret, akhirnya menjadi suatu fenomena yang didasari atas rasa senang dan seru belaka. Belakangan, kesenangan itu menjadi bahan perdebatan publik karena telah masuk ke dalam ranah ruang semesta publik yang di dalamnya terdapat aturan dan norma-norma. Memotret dan merekam suatu kejadian dengan menggunakan kamera di ponsel ternyata telah membuahkan beberapa kasus. Umumnya, kasus terkait dengan norma tata susila. 

Banyak contoh yang bisa dipaparkan. Pose-pose mesra Mayangsari dengan Bambang Trihatmodjo hasil bidikan ponsel yang beredar luas di masyarakat melalui internet. Contoh kasus rekam gambar lainnya yang juga menjadi konsumsi publik dan merupakan hasil perekaman video ponsel adalah adegan tempat tidur mantan anggota DPR Yahya Zaini dan artis Eva Maria. Rekaman video ponsel lain yang menggegerkan adalah foto mesra anggota DPR Max Moein dengan seorang perempuan yang juga bukan istrinya.

Perekaman video ponsel terkini yang berkembang menjadi sorotan para ahli adalah adegan kekerasan yang dilakukan Gang Nero. Rekaman video gang yang beranggotakan remaja putri di Pati, Jawa Tengah, itu beredar menampilkan adegan mereka melakukan kekerasan terhadap remaja putri lainnya dengan menendang dan menarik rambut.


Wilayah Publik 

Semua aksi perekaman gambar dengan menggunakan ponsel itu akhirnya menjadi kasus. Bukan salah ponselnya, tetapi adegan yang ada pada perekaman tersebut, yang telah memasuki wilayah publik yang di dalamnya terdapat norma, dalam hal ini susila dan kekerasan. Dua hal itu bahkan bisa masuk ranah hukum pidana.

Terkait dengan fenomena itu, pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Bagus Takwin kepada SP awal pekan ini mengatakan, masuknya teknologi ke dalam sebuah masyarakat tentu mempengaruhi perilaku masyarakat.

Teknologi ponsel semula digunakan untuk berkomunikasi. Namun, dengan adanya fitur kamera yang dapat digunakan untuk merekam apa saja, mulai dari aktivitas sehari-hari sampai dengan merekam domain pribadi, ponsel pun menjadi tidak sekadar untuk berkomunikasi.

Ia berpendapat, munculnya video-video seperti itu sangat beragam motifnya. Antara lain, bisa jadi karena ada unsur-unsur sentimen tertentu dari seseorang maupun memang disengaja untuk mencapai maksud-maksud tertentu.

Bagus menambahkan semua itu menjadi konsumsi publik karena melihat akar dari budaya masyarakat Indonesia yang menyukai masalah pribadi orang lain, entah itu berbau sensualitas, kriminal, ataupun urusan perselingkuhan. Hal itu dapat dilihat dari larisnya tayangan infotainment sebagai tayangan paling banyak menyerap penonton.

Semakin banyaknya artis masuk televisi pun membuat latah orang untuk juga menjadi dikenal. "Masalahnya banyak artis yang menjadi terkenal karena kasus, bukan karena prestasi," ucapnya. 

Orang biasa bisa menjadi terkenal karena masuk televisi. Hal-hal seperti itu, kata Bagus, di kemudian hari sangat mungkin muncul kembali. "Sebabnya karena masyarakat kita cenderung mendapatkan kenikmatan dengan menonton masalah pribadi orang," jelasnya.

Di mata psikolog Tika Bisono, fenomena merekam melalui video ponsel itu memang bisa dikatakan sebagai bentuk pengakuan atas jati diri. "Seperti Gang Nero, mereka itu kan para remaja yang tengah berproses menunjukkan eksistensi dan jati dirinya. Masalahnya, yang mereka lakukan itu adalah menimbulkan kekerasan. Kekerasan yang terencana malah," paparnya, ketika dihubungi Jumat (20/6).

Apa yang dilakukan Gang Nero, tentu tidak terlepas dari peran keluarga. "Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk seseorang. Karena tidak mungkin kan, seseorang itu tiba-tiba langsung berumur 17 tahun? Harus dari lahir, kecil dan bertumbuh, itu semuanya mendapat pengaruh dari keluarga. Sebab, ketika lingkungan mempengaruhi, sebetulnya sebagai seorang remaja, sudah dapat memilih mana lingkungan yang baik untuknya dan bisa menolak yang tidak baik. Hadirnya sebuah kelompok juga karena biasanya didasari atas kesamaan. Bisa akibat frustrasi yang sama dan kompensasi dari frustrasi itu diwujudkan dalam kekerasan," ia menambahkan. 

Memori Internal

Berkaitan dengan fenomena rekam gambar diam dan bergerak dengan menggunakan ponsel berkamera itu, praktisi teknologi ponsel Usun Pringgodigdo berpendapat, sangat penting seseorang mengetahui fitur-fitur di dalam tubuh ponsel. "Hal itu penting supaya seseorang tahu bahwa tindakannya atau aktivitasnya direkam, baik dipotret maupun divideo," katanya.

Teknologi memang memungkinkan perekaman dilakukan diam-diam karena bisa mengeliminasi bunyi alat perekam dengan meng-hilangkan bunyi klik saat kamera beraksi. Selain itu, teknologi juga memungkinkan penyebaran foto dan video, manakala ponsel berkamera itu, data, gambar, dan suaranya, tersinkronisasi ke dalam komputer (PC) yang terkoneksi dengan jaringan internet. Memang, unsur manusia yang menyebarkannya sangat berperan dalam hal ini. Karena itu, mengetahui benar fitur-fitur dan kemampuan sebuah ponsel berkamera sangatlah penting.

"Penting diketahui masyarakat jangan menyimpan data, baik gambar maupun suara, pada internal memori ponsel. Sebab, ketika ponsel sedang berada di tangan orang lain, data tersebut bisa dengan mudah terlihat dan diedarkan oleh oknum. Sebaiknya, simpan data, ataupun aktivitas apa pun, ke dalam folder kartu memori atau memori eksternal di dalam ponsel dan lepas kartu memori itu saat ponsel dipegang orang lain atau diservis," ia menjelaskan.

Pengetahuan tentang merekam data pada memori eksternal atau kartu memori sebuah ponsel, agaknya belum benar-benar dipahami masyarakat pengguna ponsel berkamera. Karena itu yang terjadi, data bisa berpindah tangan dengan mudahnya, seiring dengan ponsel berpindah tangan. Kecuali, bila aksi-aksi rekam gambar itu, memang disengaja agar menjadi konsumsi publik. [DGT/N-5]